Panduan Puasa Ramadhan dengan Food Combining

Berpuasa dengan asupan yang ringan cerna? kenapa enggak?

banyak yang skeptis dengan pola makan Food Combining di bulan puasa, terutama dengan sahur menggunakan buah-buahan… padahal sistem cerna yang ringan justru akan mengefisienkan energi, pencernaan tidak perlu bekerja keras, hingga energi dapat dialokasikan untuk kegiatan yang lainnya… plus, saluran kerja yang banyak beristirahat akan memaksimalkan tubuh untuk membuang toksin-toksin…

dengan asupan-asupan yang ideal (dibutuhkan tubuh), proses regenerasi sel juga dapat berjalan beriringan dengan proses “detoksifikasi” di bulan Ramadhan…

sekali lagi, Semoga sehat Lahir & Bathin secara optimal di penghujung Ramadhan 🙂

Panduan berpuasa dengan Food Combining
Panduan berpuasa dengan Food Combining

*note: tetap penuhi kebutuhan air putih secara optimal, siasati diantara waktu sahur dan berbuka hingga jelang tidur.

PUASA RAMADHAN = GRAND DETOX?

Selain membersihkan diri dari “kotoran-kotoran” yang terkait dengan perilaku, sifat, dan keimanan… Sejatinya berpuasa Ramadhan atau juga berfungsi untuk membersihkan tubuh dari berbagai macam kotoran-kotoran dan toksin yang terakumulasi dan sulit dikeluarkan oleh tubuh… sepertinya tidak berlebihan bila saya menyebutnya sebagai Grand Detox… 🙂

Dengan Membiarkan diri mengalami lapar dan haus yang terkontrol, puasa pada prinsipnya memberikan kesempatan kepada saluran cerna untuk beristirahat dengan tidak menjejalkan makanan ke dalam saluran cerna sepanjang 12meter, dan meregenerasi sel2 tubuh…

Kebutuhan terhadap zat-zat untuk mempertahankan struktur dan jaringan-jaringan vital diambil dari cadangan-cadangan berlebih yang tidak digunakan pada tubuh, untuk kemudian digunakan untuk memasok nutrisi tubuh… setelah cadangan tidak berguna “dihabiskan”, barulah sel2 sehat yang digunakan sebagai sumber nutrisi… dengan kata lain, kelaparan yang tidak terkontrol juga akan berdampak buruk bagi kesehatan…

Terkait dengan pola makan berpuasa Ramadhan, khususnya budaya kuliner di Indonesia, metode berpuasa detoksifikasi tubuh ini nyaris tidak berfungsi… berpuasa dengan aplikasi pola makan yang buruk tidak akan membawa hasil yang signifikan terhadap kesehatan… Asupan-asupan makanan yang seharusnya menjadi sumber untuk meregenerasi sel2 tubuh malah menjadi tumpukan sampah baru pada tubuh…

Bisa di amati dari sekitar, dimulai dari sahur yang membabi-buta seakan tidak akan pernah bertemu makanan lagi… hingga saat berbuka sebagai ajang balas dendam… sahur dengan makanan yang memberatkan sistem cerna, dengan tujuan kenyang yang bertahan lama… kemudian berbuka dengan yang manis-manis menyesatkan (manis artifisial!) Dilanjut dengan pola makan yang juga memberatkan saluran cerna hingga penuh sesak… yang kesemuanya hanya akan menumpuk sampah dan toksin baru dalam tubuh… dan diakhiri dengan pembalasan besar-besaran disaat lebaran… itupun belum lagi ditambah dengan jajanan-jajanan bulan Ramadhan yang cukup brutal bagi saluran cerna, tidak aneh pasca lebaran banyak kunjungan ke UGD dengan keluhan bermacam-macam…

Idealnya, sifat dari asupan yang dikonsumsi selama berpuasa harus yang ringan cerna, mampu diserap dan menutrisi tubuh secara optimal seperti buah-buahan dan sayuran segar (lihat pola FoodCombining) (sebaiknya untuk pola makan harian juga dijaga) agar dapat memberikan hasil kesehatan yang optimal pula pada akhir berpuasa…

Dengan mengawali sahur dengan segelas air hangat yang diberi perasan jeruk nipis, dilanjut dengan minum segelas air putih, beri jeda waktu 15-20 menit, kemudian santap sahur dengan buah-buahan hingga cukup kenyang (buah ideal; matang pohon, manis, berserat, berair), beri waktu 20-30 menit untuk menutup sahur dengan segelas air putih kembali sebelum memasuki Imsak…

Berbuka Puasa dengan diawali segelas air putih, dan lanjut dengan buah-buahan ideal. Makan malam sebaiknya dilakukan setelah tarawih(pilihan pribadi), dengan pertimbangan saluran cerna yang penuh akan mengganggu kegiatan shalat. Maksimalkan kebutuhan air putih di waktu setelah berbuka (2.5liter/8gelas/hari), (dan jangan lupa perhatikan untuk menghindari minum banyak setelah makan).

Banyak kekhawatiran jika menjalankan Puasa dengan metode FoodCombining seperti diatas, khawatir tidak sanggup menjalankan puasa… tapi semuanya tidak terbukti, saya pribadi mengaplikasikan pola FoodCombining dengan sahur buah2an, dan tetap bersepeda harian tanpa hambatan yang berarti, yang pasti jauh lebih segar dari menjalankan puasa2 terdahulu…

Selesai menjalankan puasa Ramadhan, ada baiknya ditahan keinginan untuk balas dendam secara besar-besaran disaat Lebaran… disayangkan, setelah perjuangan 30 hari bersih-bersih semua tumpukan sampah di badan, di jejalkan lagi dengan sampahan baru tanpa sempat merasakan perubahan yang berarti untuk kesehatan…

Sederhananya… berpuasa memberikan kesempatan tubuh untuk membuang timbunan-timbunan yang lama, membuang toksin-toksin, menormalkan sekresi, memperbaiki jaringan-jaringan, meningkatkan dan memperbaharui metabolisme tubuh…

Selamat menjalankan Ibadah Puasa, semoga Sehat Lahir Bathin di penghujung Ramadhan…

Sumber Refferensi: Herbert Shelton – Fasting For the Renewal of Life, Erikar Lebang – Food Combining di Bulan Ramadhan – Detoksifikasi

KANGEN WATER

Tubuh yang sehat memiliki PH netral cenderung basa, di kisaran 7.3-7.4… didapat dari pola makan dengan unsur nabati yang masih bersifat alami dan segar (buah2an dan sayuran segar).

Begitupula dengan apa yang diminum, air yang memiliki sifat basa yang kuat… tapi bukan sembarang air dengan sifat basa yang dipaksakan dengan penambahan unsur mineral untuk menjaga kadar PH-nya agar selalu stabil dalam titik PH tertentu… yang ada malah bawa masalah untuk tubuh…

Air yang bersifat basa idealnya tercipta secara otomatis dari alam, dan untuk beberapa lokasi di belahan dunia memiliki mata air dengan sifat basa yang sangat tinggi, seperti Air Zam-Zam, Air Lourdes, Air Tlacote, Air Nordenau, dan beberapa sumber Air “ajaib” lainnya…

Enagic selaku pemilik nama dagang Air Kangen / Kangen Water, telah meneliti, merekayasa dan menduplikasi proses alami pembentukan PH basa yang tinggi pada air melalui proses elektrolisis, dan menghasilkan mineral kalsium dan magnesium dalam rasio yang tepat(2:1) untuk tubuh. Selain itu Proses elektrolisis juga merubah molekul air menjadi lebih kecil dari molekul air biasa, dan menjadikan Air Kangen jadi jauh lebih cepat dan mudah diserap oleh tubuh.

Yang tidak kalah penting, selain menghasilkan PH basa yang tinggi dan molekul air yang mengecil, teknik elektrolisis juga menghasilkan daya reduksi yang alami pada Air Kangen (Antioksidan yang sangat tinggi), yang mampu menekan dan mengatasi oksidasi pada tubuh, yang disebabkan oleh paparan radikal bebas dalam bentuk makanan, minuman dan polutan harian disekitar yang masuk ke dalam tubuh dan berpotensi merusak banyak fungsi tubuh…

Proses elektrolisis pada AirKangen dihasilkan oleh lempengan titanium yang hanya dimiliki oleh Enagic sebagai pemegang hak patennya. Dengan kata lain hanya Enagic yang memiliki teknologinya.

Sayangnya Antioksidan dan PH yang tinggi Pada Air Kangen akan menurun kadar dan kualitasnya seiring waktu sesuai dengan sifat alaminya, apalagi ditambah paparan oksigen dan sinar matahari. Jadi, sebaiknya mengkonsumsi Air Kangen yang paling ideal adalah ketika baru selesai diproses dari mesinnya, alias langsung diminum. Idealnya, Air Kangen sebaiknya tidak untuk disimpan dalam jangka waktu lama, maksimal 4-5 hari…

Untuk sebagian orang yang pertama kali mengkonsumsi Air Kangen akan merasakan reaksi yang kurang nyaman pada tubuh selama kurang lebih 1-2 hari, terutama dengan kondisi tubuh yang mengalami asidosis. Reaksi bisa berbeda pada setiap orang, tergantung kondisi kesehatannya… gejala biasanya berupa mual, sedikit pusing, diare, berkeringat lebih banyak, lebih sering buang air kecil dan beberapa gejala kurang nyaman lainnya, ini gejala Air Kangen bereaksi untuk memetabolis tubuh lebih aktif dan mendorong toksin-toksin untuk keluar tubuh (detoksifikasi).

Mengkonsumsi Air Kangen secara kontinu akan membantu tubuh untuk memperbaiki dan merawat sel-sel tubuh, dan menjaga tubuh pada kondisi Homeostasis.

Ngerasa Food Combining?

Udah Food Combining, tapi kok…

“Masih ga ada perubahan signifikan…” “kondisi badan malah jadi sering drop…” atau yang lebih sering dikeluhin “gw masih tetep gendut”… Dan akhirnya ngerasa ga cocok jalanin FC…

Sebelom lebih jauh salah alamat dalam menuduh ini itu… coba di review lagi pola makannya… beneran jalanin FC apa cuma berasa jalanin FC?…

Paling sering sih jalanin FC setengah2, ataupun masih “semau gue”… tanpa dipahami dan dijalani secara keseluruhan…

Semisal: “gw udah jalanin semua kok, tapi maag gw masih kambuh terus…” dan masih ada beberapa keluhan lainnya… Trus pas di review food diarynya… iya sih sesuai… tapiii, taunya masih minum kopi dan teh…

Atau “gw jalanin Food Combining juga, tapi dibarengin sama OCD, yang penting kan paduan makannya” trus mengabaikan waktu cerna?

Atau kadang masih ga sadar nyomot2 cemilan modelan martabak, pempek, pizza, kaefsi, pokoknya cemilan sampahan brutal…

Kalo yang sadar konsekuensi pola makan yang melenceng pasti udah tau risikonya… masalahnya juga ditanggung sendiri…

Tapi untuk yang ga sadar, ngotot dan berasa yakin udah jalanin FC… mungkin lupa kalo tubuh ga akan pernah bisa bohong… You Are What You Eat…

Ada baiknya selalu review pola makan kalo badan mulai ngambek, bikin Food Diary kalo perlu… di inget-inget lagi, dan yang paling penting jujur sama diri sendiri, udah jalanin FC secara menyeluruh apa belom?

Enema Kopi part-2

Sebagai salah satu metode external untuk membuang sisa endapan dan kotoran pada usus besar dalam waktu singkat agar proses penyerapan menjadi optimal kembali… dan memperbaiki kinerja liver dengan melipatgandakan fungsinya dengan membuang tumpukan racun berlebih…

Ibarat mobil yang di tune-up, dibersihkan dari kerak yang menghambat dapur pacu, agar dapat berfungsi secara optimal tanpa hambatan…

Namun tune-up dan tidak akan berpengaruh banyak tanpa bahan bakar yang berkualitas… mobil dengan bahan bakar yang buruk, selain menghasilkan performa yang buruk, tidak lama kemudian akan segera kembali dipenuhi residu2 sisa pembakaran yang tidak sempurna… dan tidak lama kemudian di tune up kembali…

Sama dengan metode enema kopi, tanpa pola makan yang sehat, saluran usus besar dan liver yang telah “dibersihkan” akan segera kembali dipenuhi dengan toksin dan endapan kotoran… nyaris tiada guna selain bebersih untuk kemudian dikotori lagi… perubahan kesehatan tidak akan pernah optimal…

Apalagi dilakukan secara sembarang dan tanpa prosedur yang benar, bisa jadi malah membawa masalah kesehatan di kemudian hari…

Perlu diperhatikan, Enema kopi masih jadi kontroversi di dunia medis, jadi apabila terjadi hal2 yang tidak di inginkan karena penggunaan dan perlakuan yang melenceng dari prosedural, tidak ada pihak yang bisa bertanggung jawab kecuali diri sendiri…

Sejauh ini, metode yang digunakan dan aman dilakukan adalah metode Max Gerson dan Hiromi Shinya…

Jadikan Enema Kopi sebagai penunjang pola makan sehat… untuk mengoptimalkan kesehatan secara keseluruhan… bukan sebagai “obat pencahar” ataupun jalan pintas untuk sekedar “bebersih usus” apalagi untuk tujuan kurus…

EnemaKopi

Alarm Tubuh Sebagai Peringatan Awal

Akhirnya ngerasain juga Flu pertama di 2015, gara-gara ngebiarin diri bablas dan nekat makan ngawur secara ugal-ugalan selama 3 hari berturut-turut … kondisi badan drop… ya, ini udah konsekuensi…

Sebenernya udah ada “teguran” awal dari badan sendiri, segala sesuatu yang ngeberatin saluran cerna pasti bakal bikin masalah2 ringan… misalnya berasa mual, salah satu bentuk protes tubuh paling awal… Entah asupannya berupa paduan makanan jahanam yang melenceng dari S.O.P. FoodCombining (FC), kemudian ditambah overload, ataupun kadang ga kecerna secara baik…

Dari mual biasanya berlanjut ke berasa begah, alias kenyang yang ga enak. Tapi kadang begah ini sering diremehkan, hanya dianggap perasaan kenyang berlebih. Dari perasaan mual pertama, saya udah cukup aware kalo makanan yang lagi dimakan udah ga beres, tapi ya berhubung lagi kepengen nekat dan Alhamdulillahnya MAKAN ENAK DAN GRATIS (PENTING BANGET!), ya sikat bleh!… khilaf sekalian… jangan nanggung-nanggung…

Harusnya udah cukup, setelah mengalami mual dan begah biasanya saya selalu kembali ke jalan yang benar, dengan kembali memberikan badan dengan pola harian FC. Tapi, lagi2 berhubung lagi liburan, dan emang lagi niat untuk meliburkan diri dari pola makan FC, saya melanjutkan terus makan enak tanpa peduli alarm badan udah mulai nyala disana sini…

note: untuk mengawali hari tetap diawali dengan sarapan buah, ini wajib! demi stabilitas dan kelancaran menikmati makan ngawur sepanjang hari. (Skip sarapan buah? Belom sampe sore, saya juga udah bakal tepar mampus!)

Hari pertama berakhir dengan perut begah, mual yang ga kelar-kelar, dan sedikit kepala mulai berat… bangun di hari kedua, langsung diare *ya nasib… konsekuensi juga… tapi tetap, sarapan pagi konsisten dengan buah2an lagi… kemudian sepanjang hari berlanjut dengan menu brutal kembali (eg; nasi bebek, mie pake potongan steak, duren seabrek-abrek, plus cemilan2 manis)…

Begah dan mual mulai naik level, reaksi selanjutnya salah satunya muntah… sebagai peringatan yang sebenernya udah cukup keras, cara radikal tubuh menolak asupan dan membuang paduan yang udah kacau balau di saluran cerna… kemudian disusul tengorokan mulai meradang dan bersin2 yang mulai menghampiri…

Belom cukup hari kedua, hari terakhir (tetep sarapan buah dong) bodohnya masih nekat lanjutin makan yang juga ngawur (walau ga sengawur kemarinnya)… kemudian Alarm yang udah jerit-jerit, makin jerit ga karuan dengan kondisi migren, radang tenggorokan semakin menjadi, diare yang masih berlanjut, sendawa sepanjang hari, bersin2 plus ingus (lucunya ini dianggap “Lu masuk angin tuh, sana kerokan, minum obat, minum teh manis anget, trus tidur” wew!)

Solusinya? Kembali ke pola FC, tapi usahain yang ideal… supaya proses recovery juga berlangsung lebih cepat. Tujuannya kembali ke Homeostasis (kondisi tubuh seimbang supaya mampu membereskan masalahnya secara otomatis)

Sedikit note: minum obat2an warung hanya memotong “rasa sakit” tanpa membereskan masalah utamanya, dengan kata lain, bo’ongin diri sendiri. Dan juga ngeberatin kinerja liver dan ginjal. Trus minum teh manis? Sama aja bunuh diri pelan2, ngebiarin tubuh dehidrasi…

Ibarat mobil, tanda-tanda mobil ga beres biasanya bisa kepantau dari panel indikator di dashboard pengemudi, semisal; Oli mesin udah menipis, tapi kita masih bandel “ah, tar aja deh, masih bisa jalan ini”… kemudian sebodo amat dan akhirnya lupa dengan indikator yang udah menyala tadi… mobil kembali di pacu, kondisi oli yang menipis bakal ngeberatin piston untuk bergerak, kemudian panel indikator nunjukin hal lain, temperature mesin naik… masih juga bandel, belaga bego dan tetep lanjutin jalan… sampe akhirnya mobil berenti dengan kondisi piston jebol dan beberapa part mesin lainnya yang juga ancur2an, akhirnya turun mesin… hal2 sepele yang seharusnya bisa ditangani secara mudah dan jauh lebih murah bukan?

“kok gampang banget sih lu rewel kena makanan enak?” well… ini salah satu konsekuensi pelaku FoodCombining, lebih sensitif terhadap paduan makanan dan minuman yang memberatkan sistem cerna dan meningkatkan kondisi asam tubuh, dan sebagainya… alarm tubuh memberikan peringatan untuk membatasi diri, dan menghindari tubuh ngambek dan mencegah akumulasi sakit-sakit ringan menjadi masalah serius di kemudian hari, dalam jangka waktu pendek maupun panjang…

Trus gimana kalo dibiarin terus-terusan makan “ugal-ugalan”? perlahan bakal mematikan sensor tubuh, “kembali sehat” dan “tahan banting” terhadap menu2 brutal…  tapi jangan kaget kalo suatu saat tiba2 udah berkembang jadi penyakit yang cukup serius… tanpa peringatan…

Sekali lagi, sebagian besar penyakit2 degeneratif ataupun yang katanya penyakit2 turunan semacam jantung, stroke, diabetes, kanker ini itu, dan yang lain2nya… semua berawal dari apa yang masuk ke mulut… YOU ARE WHAT YOU EAT…

Tulisan semrawut ini hanya sedikit curcol dan share pengalaman, untuk sedikit lebih peka sama kondisi tubuh sendiri… Dan semuanya berakhir dengan kondisi ingusan, idung mampet, batuk, dan sedikit pusing, sembari nulis tulisan ini.

Yeah! Flu pertama di 2015!

kondisi Usus Besar sebagai parameter kesehatan

Awalan yang baik akan berakhir dengan baik pula…

Begitu pula sebaliknya, awalan yang buruk akan berakhir dengan buruk juga. Seperti pola makan yang buruk, akan berakhir dengan buruk… mulai dari output hingga dampaknya terhadap kesehatan secara keseluruhan…

Salah satu parameter kesehatan adalah kondisi usus besar, makanan yang dikonsumsi setiap hari akan dicerna oleh lambung dan diserap oleh usus. Usus halus bertugas menyerap sari makanan, dan usus besar bertugas untuk menyerap cairan dari sisa serap di usus halus. Sebagai tempat penyerapan akhir, usus besar juga  menghasilkan produk terakhir berupa kotoran tinja. Selama proses berjalan lancar, tentu tidak akan ada masalah, tubuh akan senantiasa sehat…

Pola makan buruk dewasa ini menyebabkan proses mencerna, menyerap, dan membuang dengan baik dan lancar setiap harinya. Sebagian besar masalah usus besar disebabkan karena mengkonsumsi asupan yang didominasi oleh menu protein hewani, susu dan turunannya, serta produk2 makanan olahan pabrik, dan kurang dalam mengkonsumsi Buah2an dan Sayuran segar yang kemudian diperparah dengan kondisi kekurangan minum air putih yang berkualitas… alias dehidrasi…

Akibat wujud yang belum dicerna dengan baik, sisa cerna berbentuk solid akan memberatkan kinerja peristaltik usus dalam mendorong sisa cerna keluar tubuh(BAB). Kondisi seperti ini terus menerus akan menyebabkan proses penyerapan terganggu, karena tertimbun kerak kotoran yang melapisi dinding2 dan lipatan usus… yang secara akumulatif akan menyumbat dan memenuhi usus dengan sampah dan toksin…

Tidak rutin BAB harian, susah BAB atau sembelit, adalah indikasi awal dari masalah saluran cerna pada usus besar akibat proses cerna yang buruk… yang kemudian akan membawa masalah yang lebih besar seperti kanker usus jika terus nekat dan cuek dengan meneruskan pola makan yang buruk…

Bukan itu saja… kondisi diatas bukannya mengeluarkan sisa2 toksin, tubuh malah menyerap racun2 dan akan mengantarkan berbagai masalah lanjutan terhadap kesehatan secara keseluruhan. Ibarat saluran limbah pabrik yang tersumbat, jika salurannya tidak dirawat, lambat laun limbah akan berbalik mengotori dan meracuni isi pabrik…

Untitled-1Tumpukan kotoran yang mengendap dan nyempil2 diantara otot usus yang bekerja terlalu berat, yang lama2 akan mengeras dan menyumbat.

kemudian, Bandingkan dengan kondisi usus besar yang sehat:Usus Sehat

Kondisi usus diatas di ambil dari data klinis milik Dr.Hiromi Shinya, Gastroenterologist yang menekankan perubahan pola makan yang ideal seperti Food Combining, dengan tujuan meminimalkan asupan yang memberatkan kinerja saluran cerna, serta merawat dan membersihkan usus besar dengan metode Enema Kopi, sebagai supporting device dari pola makan yang sehat…